

Bapak DatangHari ini Bapak akan datang. Seperti biasanya di hari Sabtu pada minggu kedua.Bapak Datang
Kadang dia menginap, kadang tidak. Lebih sering tidak.
Sebenarnya aku tidak peduli apakah Bapak akan menginap atau tidak. Aku hanya peduli pada uang yang Bapak berikan, seperti yang selalu dilakukannya.
Lain halnya dengan Adik. Dia selalu mengharapkan agar Bapak menginap. Kalau perlu malah jangan pergi lagi, tinggal saja terus bersama kami.
Sudah aku bilang, tidak mungkin Bapak tinggal bersama kita.
Bapak punya keluarga yang harus diurus.
Tetap saja Adik berharap.
Y


Pohon Tua di Atas BukitAku memandang foto itu untuk kesekian kalinya hari ini. Foto hitam-putih sebuah pohon tua yang besar di atas bukit. Berdiri tegar tanpa tergoyahkan oleh angin badai sekalipun. Daun-daunnya yang rimbun memberikan keteduhan walau seterik apapun matahari bersinar. Aku sendiri yang mengambil foto itu tahun lalu. Pohon itu mengingatkanku akan suamiku. Laki-laki yang tetap tegar berdiri walau sekeras apapun masalah menimpanya. Laki-laki yang dengan kedua tangannya akan memeluk dan menenangkanku setiap kali aku terjatuh. Senyum yang selalu dia lemparkan sebelum berangkat ke kantor.Pohon Tua di Atas Bukit
Ya, pohon itu mengingatkanku padanya. Di bawah po


KardusPagi ini semua orang masuk kantor seperti biasa. Wajah-wajah yang sama dengan aktifitas yang sama pula.Kardus
Aku masuk ke ruanganku dan memandang sekeliling.
Bersih. Tidak ada lagi barang-barang yang biasanya berserakan di mana-mana. Di atas meja hanya ada sebuah kardus yang terikat tali plastik.
Seorang laki-laki masuk dan dengan satu tangan ia membawa kardus tersebut. Aku hanya diam. Mataku lekat menatap perempuan yang berdiri di ambang pintu. Memandang mata yang tertuju pada kardus tersebut. Tanpa suara mereka berlalu. Jemari mereka bertautan.
Bajingan kamu Bud, harusnya kamu yang naik pesawat
Welcome to DA enjoy!!
--
Previous PageNext Page